BREAKING

Rabu, 23 Desember 2015

Kado Natal Negara Indonesia, TNI Kembali Menemabak Rakyat Sipil Di Papua.




Marcel Doga, Korban di tembak oleh Militer Indonesia
KNPBnews;_Jayapura 23 Desember 2015. Menjelang Natal TNI kembali sipesialkan Kado Natal bagi Rayat Papua dengan Menebak Warga Sipil oleh anggota TNI Di Kerom.

Penembakan terhadap warga sipil Atas Nama MARCEL DOGA, ini terjadi pada hari minggu 20 Desember 2015. Korban Marcel merupakan salah satu karjawan perusahaan kelapa sawit di kerom.
Kornologi siangkatnya sekitar pukul 22.32 WPB, korban bersama rekan lainya datang ke pemilik Kantor perusahaan perusahaan kelapa sawit untuk minta Tunjangan Hari Raja THR.

Karena semua karjawan sudah menerima gaji dan THR namun korban belum terima ahirnya korban datang untuk meminta THR, pihak perusahaan tidak merespon permintaan karjawan dan mengusir korban dengan alasan bosnya tidak ada di tempat.

Lalu korban tanya lagi dimana bos dan gaji dan juga uang THR, namun pihak perusahaan tidak meberikan penjelasan, mala meminta aparat TNI mengusir korban.

Korban marah para anggota TNI bahwa, bukan kalian yang kerja saya yang kerja tegas korban.
pihak perusahaan kelapa sawit memang yang dibekap Aparat TNI mengusir paksa korban namun korban tetap menuntut haknya sehingga anggota yang bertugas di perusahan langsung menembak Marsel Doga Hingga tewas di tempat.

Sungguh ironis heran di depan kantor -kantor koramil, di depan kantor polisi di depan pos aparat di setiap dudut kota ada Tulisan terpapang Dami Itu Indah, Kami Siap melayani Anda.

Ada juga pondok natal dihiasi lampu natal yang indah dengan tulisan selamat hari Natal Yseus Membawa Damai dan lainya, tetapi semua hanya sadiwara dan topeng, ssungguhnya merupakan sologan palsu tanpa makna. Aktor kekerasan pembunuh manusia papua adalah anggota TNI/POLRI.
separatis pengcau kriminal OTK adalah aparat kolonial berbulu domba hatinya harimau.

Setiap Tahun tak pernah sepi dengan kado-kado Natal yang spsial bagi rakyat papua. Menyabut kelahiran sang pelamat umat manusia Yesus 25 desember setiap tahun Rakyat Papua dihibur dengan Air mata dan darah sebagai kado spesial yang diberikan oleh aparat kolonial Indonesia TNI/POLRI di Papua.

Ada beberapa catatan peristiwa pembakan sebagai kado Natal bagi rakyat papua.

Pertama pada 10 November tahun 2000 Theys H Elluay dan sopirnya diculik oleh kopasus lalu Theys H Elluay ditemukan tewas dalam mobil.
Pada tanggal 16 Desember 2009 Kelly Kwalik dibunuh densus 88 dan polisi di Timika
Pada tanggal 16 Desember 2012 Hubertus Mabel dibunuh di Wamena oleh Densus 88 dan polres jayawijaya wamena
Pada tanggal 8 desember 2014, 4 Siswa SMA ditembak sparat di Paniai puluhan lainya terluka.
Pada tanggal 1 Desember 2015, 4 orang ditembak mati dan 8 orang lainya gritis di serui.
Pada tanggal 1 desember 2015, 306 mahasiwa papua ditangkap puluhan lainya disiksa dan satu orang ditembak di jakarta.
Pada tanggal 21 Desember 2015, salah satu warga di kerom ditembak oleh Anggota TNI.

Aparat kolonial indonesia jelas-jelas menunjukan sikap kolonialismya di papua dengan menebak warga sipil menggunakan alat negara. Semoga penembakan di kerom ini kado spesial terakhir bagi rakyat papua natal tahun 2015 ini. (N.Suhuniap/KNPB)






Selasa, 22 Desember 2015

KNPB DAN PRD TIMIKA BERSIARAH KE MAKAM JHON KELLY KWALIK DALAM PENGAWALAN KETAT APARAT KEPOLISIAN DAN TNI

SITUASI BERSIARA KE MAKAN KELLY KWALIK
KNPBnews;_Timika;-Timika 16 Desember 2015.Komite Nasional Papua Barat KNPB wilayah Timika dan Parlemen Rakyat Daerah Mimika (PRDM) mersiarah ke makam Almarhum Jnd.Jhon Kelly Kwalik, dalam pengawalat aparat kepolisian  Kolonial Indonesia dari Polres Mimika dan anggota TNI. 
KNPB dan PRD wilayah mimika bersama rakyat papua bukan hanya bersiarah ke makam namun, dalam kekiatan siarah ini mengadakan ibadah dan doa siarah sekaligus juga mengadakan pemasangan lilin dan penghamburan bunga di makam Kelly kwalik.
Doa siarah ke makam Kelly kawalik dimulai pada pukul sejak pagi pukul 07.00-12.00 WPB, a Aktvis KNPB sejak awal memasang sapnduk persiapan doa siarah pada pukul 07.00 WPB. Kemudian pada pukul 08. 00 WPB aparat kepolisian dari polres Mimika yang dipimpin oleh wakil kapolres AKBP.Y Takamuli, bersama sejumlah peresonil Anggota kepolisian datang ke lokasi Makam Kelly Kwalik lapangan Timika Indah Papua. 
Aparat kepolisian sekitar 200 an dengan peralatan lengkap, ditumpangi 2 mobil dalmas 6 mobil avanza 1 mobil extrada 3 mobil polantas 1 mobil perintis milik Brimob bersama 1 peleton anggota TNI dan sejumlah Intelejen  tiba di lokasi lalu melakukan negosiasi dengan ketua Umum KNPB wilayah Timika Stven Itlay, setelah melakukan negosiasi dengan Wakil kapolres untuk melanjutkan kegitan Siarah di makam.
Kemudian sekitar pukul 09.20 WPB, Ibadah Singkat sekaligus meminpin doa siarah Yang Dipimpin oleh pendeta agus Uruktem, sedangkan renugan singkat dipimpin oleh pdt. Deserius Adii S.Th,  Pdt Adii dalam renugan singkatnya mengajak rakyat papua bersama KNPB berjuang secara damai dan mampu mengampuni orang lain berbuat jahat terhadap kita tegasnya. Labih lanjut Adii mengajak anggota KNPB dan PRD melanjutkan perjuagan yang Almarhum Kelly tinggalkan, mengampuni semua orang yang menindas dan membunuh orang papua di tanah ini berdasarkan injil Matius pasal 14

Setelah ibadah singkat dilanjutkan dengan pemasangan lilin dan penghamburan bunga di amakam. Pemasangan lilin dilakukan 4 perwakilan masing –masing PRD wilayah Mimika, Mewakili KNPB pusat, mewakili TPN, dan mewakili keluarga. Acara pemasangan lilin dilanjutkan pembacaan stekmen politik Parlemen Rakyat Daerah Mimika sebagai penanggungg jawab politik dan dibacakan oleh ketua KNPB wilayah Timika Steven Itlay. Dalam pembacaan stekmen politik ada 8 poin menjadi tuntutan adalah: 
1.   PRD Wilayah Mimika Mendesak Dewan HAM PBB segera lakukan sidang darurat untuk membahas situasi terakhir HAM di Papua dan segera mengirim tim Ahli yang indevenden ke Papua barat
2.   Knpb DAN PRD wilayah mimika mengutuk keras tindakan militerisme, pembunuhan Masal di paniai, pembunuhan di Serui, tidakan kekerasanlainya  penyiksaan, Intimidasi, terror, Panangkapan dan pembungkaman Hak politik dengan stikma KKB, GPK separatis terhadap rakyat Papua yang menutut hak politiknya
3.   Presiden Joko Widodo segera bertanggung jawab atas pelanggaran HAM di Papua dan segera hentikan pemekaran kodam dan polda papua barat dan hentikan Pengiriman Militer di Papua Barat
4.   Resim JOKOWI JK segera membuka seluas-luasnya bagi jurnalis Asing Indevenden dan   pekerja HAM Internasional di west Papua
5.   Pemerintah Kolonial Indonesia Segera menghapus Istikma separatis KKB, GPK dan pasal makar dan membuka ruang demokrasi Bagi rakyat Papua
6.   Segera Tutup PT. Freeport milik kapitalis Amerika adalah aktor kejahatan dan pemusnahan ras Melanesia di Papua Barat
7.   Segera Hentikan penagkapan sewenag-wenang terhadap Aktivis Papua merdeka, Pembunuhan, pemenjaraan Perampasan dan pemerkosaan terhadap Rakyat Papua
Ketua umum KNPB Wilayah mimika membacakan stekmen politik yang ditandatangani oleh ketua PRD  Mimika Abihut Degei, pada pukul 12.30 WPB Pdt Daniel Bagau, meminpin doa penutup kegiatan Siarah di makam Kelly Kwalik.  Setelah selesasi kegiatan siarah rakyat Papua yang mengikuti siarah bersama KNPB wilayah mimika menuju ke Kantor PRD dan sekertariat KNPB wilayah mimika di kebun siri dalam pengawalan ketat aparat kepolisian dan TNI.
Pada pukul 14.00 WPB masa berkumpul di kantor Parlemen dan sekertariat KNPB untuk mendegarkan arahan umum yang disampaikan Oleh Ketua KNPB wilayah Mimika Steven Itlay dan sekertaris Umum KNPB pusat ones Suhuniap .setelah mendegarkan arahan umum rakyat membubarkan diri secara tertib















Sabtu, 19 Desember 2015

KNPB Konsulat, Trikora Cacat Hukum Dan Moral Segera Gelar Referemdum Di West Papua


KNPB Konsulat Makasar saat Gelar Jumpa Pers, Foto KPB
KNPBnews,Makasar;-Tiga Komando Rakyat atau Trikora yang dikomandangkan oleh Soekarno pada 19 Desember 1961 tepat di Alun-alun Selatan Yogyakarta adalah awan Pemusnahan dan Pumbunhan di west papua yang dilanjarkan oleh penjajah Indonesia.

Bertepatan dengan Hari Berdara bagi Papua Trikora Komite Nasional Papua Barat KNPB Konsulat Mengadakan Jumpa Pers mengutuk tindakan Negara colonial Indonesia terhadap Rakyat Papua.

“Trikora yang di komandangkan pada tanggal 19 Desember 1961, 54 tahun yang lalu adalah hari Pembunuhan dan Pemusnahan Bagi Rakyat papua Barat, Mala Petaka itu terjadi pada saat Soekarno Mengomandangkan Pasukannya untuk Menjalankan Operasi di seluruh Papua hingga kini Papua masih menjalankan Penjajahan di west Papua, Pelanggaram Ham Silih Berganti terus Menimpa di west Papua, Maka untuk menyelesaikan Semua kekecaman yang terjadi di west papua dan demi Keadilan di dunia west papua segera Lakukan Referendum di West Papua karena Referendum adalah Selusi Untuk Rakyat west Papua”. Kata Ketua KNPB Makasar Andy Eka Yeimo.

Mengingat dengan hari trikora ini, Sesuai dengan perjanjian jokowidodo bahwa akan tuntaskan pelanggaran Ham di papua maka itu, seketika jokowi mau selesaikan masalah pelanggaran Ham di Papua, maka Resim Jokowi harus buka dari bab pertama Yakni pada tahun 1961 19 sampai dengan sekaran ini tahun 2015. Tegas Eka Yeimo.

LAnjutnya Ekapia Yeimo, Kami memberitaukan kepda kopolda papua dan bin - binnya stop kejar kejar/ stop telor KNPB dan Aktivis kemanusiaan di Teritori west Papua dan kami mengajak kepada semua mahasiswa papua harus bersatu karena jika tidak bersatu maka persoalan genosida akan terus berlanjut . tandas. (CheDG)


Foto-foto KNPB Konsulat Makasar



Minggu, 13 Desember 2015

HUKUM INDONESIA TIDAK PERNAH MEMIHAK KEPADA ORANG PAPUA



KNPNnews;Opini_Kematian Orang Papua diakibatkan peluru ini belum juga berakhir? Mungkinkah di suatu hari kelak tidak ada lagi anak-anak negari yang mati karena peluruh yang kejam, getir rasanya. Peluruh selalu meranpas nyawa orang Papua yang kerap kali selalu menjadi pertanyaan.

Kamatian negeri Papua belum berakhir menegaskan bahwa perjalanan kaum yang dikalakan yang dijiwai oleh darah perjalanan sejarah adalah perjalanan menuju menyatunya ideology menjadi kapitalisme liberal. Semantara sejarah Papua bergerak menuju pengakuan sebagai warga Negara yang bermartabat dengan warga Negara yang lain di dunia. Sebagai manusia yang merdeka, bukan hanya merdeka dari ketakutan akan peluruh yang tiba-tiba melezat dan merampas hidup orang Papua, tetapi rakyat Papua bisa menentukan nasip sendiri melalui jalur REFERENDUM, sebagai demokrasi yang bermartabat mekanisme internasional.

Orang Papua pun juga bisa menikmati hak-haknya, bukan menyaksikan hak-haknya diambil. Inilah artinya merdeka sebagai manusia, menyaksikan dan merasakan sejarah para korban kita mencium bau anyir darah, tidak ada suka cita kemenangan, tetapi duka cita karena kematian melanda negeri Papua yang sangat murah itu. Tidak ada sorak-sorai, tari-tarian, yospan, wiyanii, pesak, uga, bahkan senyumpun tidak.

Pejuang Papua ditangkap, ditahan, dihukum, di penjarakan, diikat dengan borgol, ditarik seperti seekor binatang. Penjara pindah penjara, dari kota ke kota, sampai buang di tempat pembuangan atau buang di tempat sampah masyarakat, dan distikma dengan Sepratis, GPK, KSB, dll air mata orang Papua tak pernah berhenti. Hukumpun tidak memihak kepada orang Papua.

Dan mengapa orang Papua selalu berduka cita terus menerus, tidak ada suka cita? Orang Papua selalu sakit dan sedih, tak pernah tersenyum? Karena yang terjadi di atas Tanah ini adalah: borjuasi kecil atau perpanjangan kaki tangan colonial Indonesia orang Papua jajah orang Papua sendiri. Hal ini dilakukan hanya untuk mendapatkan sebatang rokok dan sepiring nasi. Maka jeritan orang Papua tak pernah berakhir dan yang ada hanyalah menangis dan menderita.

Orang Papua menderita di sudut-sudut kampong dan pingirang kota di seluruh plosok tanah Papua, Orang Papua duduk menangis di tempat sambil menonton orang kuras harta kekayaannya. Bukannya ini sejarah yang tidak pernah di catat, bahwa mereka belum menjadi pelaku aktif yang bagi sejarahnya sendiri? Yah, mereka mengingat kekalahan yang menyesalkan sejarah yang kita kanal hampir selalu berkisah tentang pahlawan, kemenangan, dan peristiwa yang monumental.

Sehingga diabaikan kematian anak-anak negari yang di rekam-pun hanya milik mereka yang agung, tetapi para budak dan serdadu-serdadu yang terlihat hampir tak pernah bahkan tidak pernah sama sekali di sebut namanya, hidup mereka-pun tidak berharga untuk satu huruf-pun dalam kitab sejarah, agaknya untuk menimbang arah sejarah Papua kita tidak perlu mendogak para petinggi negeri, bisa-bisa malah merasa ngeri, lihatlah peluruh sedang mencari nyawa orang Papua, korban berjatuhan terus, darah orang Papua mengalir terus-menerus bagaikan sungai yang mengalir siang dan malam.
Para petinggi negeri tidak kasih tanda biru, selalu tanda merah dan hitam saja. Sejarah kita bangun sendiri, kekalahan dan kekalahan, kegetiran yang kadang silih berganti akan membuat dahaga kita akan kemanusian yang akan merdeka semakin besar, arus sejarah akan semakin deras dan mungkin tak lagi akan terbendung rasa kala tidak perlu mengemuka. Sebagai dendam tidak ada gunanya, dendam kecuali akan membuat kita semakin terburuk dan sejarah menjadi lebih mengerikan.

Dendam akan membuat tanah Papua menjadi kerajaan kekerasan, dalam arena kekerasan, Tak pernah seorang pun tampil sebagai pemenang, sejarah akan bergerak pada terciptanya, tata kehidupan yang berkeadilan, yang mengakui nilai-nilai kehidupan yang mungkin anak-anak bertumbuh, berkembang dan mendorong terciptanya manusia dapat menghayati kemanusian tanpa terancam atau mengancam manusia lain.

Mecky Yeimo,
Penulis: Aktifis KNPB Sekjend I KNPB Pusat

TAMBAnG RAKSASA PT. FREEPORT INDONESIA ADALAH AKTOR KEJAHATAN DI PAPUA DAN PERDEBATAN KONTRAK PERPANJANGAN KEPENTINGAN BIROKRAT KORUPTOR


Mecky Yeimo Aktivis KNPB (Papua Merdeka) "foto Pribadi"

KNPBnews;Opini_Terjadi dan nyata kejahatan besar di Papua. Ini fakta, dan sudah dilakukan berpuluh-puluhan tahun dari 1967-2015 saat ini. Untuk menghancurkan banyak hal: lingkungan, kultur budaya, tata sosial, dan nilai-nilai kebenaran dan hak-hak pemilik ulayat Tambang raksasa PT. Freeport ini selalu dimanipulasi oleh penguasa atau kapitalis dunia. Tidak hanya itu, praktek kejahatan tersebut terlihat sengaja “dilegalkan” oleh Negara kolonial bersama kapitalis dengan napsu penguasa ekonomi hak pewaris selalu menempatkan kelompok sebagai musuh karena telah melakukan menuntut hak-hak mereka dan dengan napsu tidak redahkan selalu dikelompokkan separatis, pengacau, GPK, dan sebagainya dengan kepentingan ekonomi dunia.

Orang Papua adalah hanya sebuah ironi untuk negeri ini. Orang Papua adalah, sang pewaris tanah Papua yang kaya dengan Tambang raksasa dunia itu, tidak pernah mendapatkan apa-apa kecuali debu, limbah, kerusakan lingkungan, diskriminasi rasial. Tetapi, kemudian, apa jawaban napsu untuk menguasai kekayaan ini, ketika akumulasi kejahatan tersebut diungkap oleh rakyat Papua dengan membentuk front sebagai upaya untuk mempertanyakan identitas mereka dan hak-haknya? Negara menjawabnya dengan tembakan dan penangkapan; pengerusakan harga diri; penciptaan ilusi mengenai gerakan separatis; pelecehan rasial; dan lain sebagainya.

Kejahatan korporasi dan negara terhadap rakyat Papua dipraktekkan dalam bentuk kejahatan ekonomik dan politik. Kejahatan ekonomiknya bisa dilihat dari eksplorasi dan eksploitasi atas sumber daya alam dengan rakus, eksploitasi terhadap buruh dengan terang-terangan, perampokan atas aset rakyat Papua secara besar-besaran; kejahatan politiknya: pembungkaman suara rakyat Papua untuk menuntut hak-haknya, untuk berkumpul dan berorganisasi, dll. Tidak hanya itu, setiap gerakan perlawanan yang terkait dengan Freeport. Selalu diberi cap separatis atau makar terhadap negara. Akhirnya, isu mengenai Papua secara keseluruhan telah berhasil ditarik ke Freeport, bahkan indikator mengenai keamanan di Papua juga dipahami dari Freeport: jika di Freeport tidak ada persoalan, maka keseluruhan tanah Papua juga dianggap tidak ada persoalan, dan sebaliknya.

Situasi konflik di Papua merupakan dampak logis dari sistem pengelolaan sumber ekonomi vital, oleh tambang raksasa dunia PT. Freeport ini dengan dukungan negara. Hal-hal konflik bisa menjelaskan bahwa situasi sosial yang sedang terjadi di Papua adalah hasil dari sabotase kepemilikan sosial oleh segelintir orang. Produksi yang bercorak primitif komunal, sebagai ciri khas masyarakat adat, dihancurkan oleh corak produksi kapitalis yang akumulatif, eksploitatif dan ekspansif. Hadirnya PT. Freeport di Papua, yang aktifitasnya mengeruk kekayaan tambang secara besar-besaran, menandai dimulainya praktek produksi kapitalis di tanah Papua. Kepemilikan sosial (tanah, hutan, tambang, nikel dan meterial lainnya dengan berlapis-lapis) yang dulu menjadi milik bersama kini menjadi milik investor Asing dan birokrasi korup Indonesia. Munculnya kepemilikan pribadi atas aset vital di tanah Papua telah menciptakan kelompok baru di Papua bahkan dunia internasioal, yang selanjutnya tereduksi dalam dua kelas besar: Pemilik modal Freeport, Birokrasi Koruptor Indonesia dan petinggi Tambang raksasa Freeport ini secara keseluruhan memiliki waktu kerja untuk dijual ke pihak kapitalis, dan sedang perdebatang perpanjangan kontrak PT. FI ini hanya kepentingan dan perpanjangan kejahatan di tanah Papua. Lebih lanjut Freeport telah dan sedang melakukan eksploitasi secara terang-terangan terhadap buruhnya. Penilaian atas tindakan eksploitatif ini bisa dilihat dari perbandingan upah yang diterima buruh dengan keuntungan yang diperoleh Freeport. Di sinilah karyawan orang asili Papua merasa nilai kerjanya tidak dihargai; dari sini pula muncul konflik kelas, yakni antara keryawan (sebagai representasi dari rakyat Papua) dan actor petinggi Freeport selalu untuk membentuk/ciptakan perlawanan di tingkat masyarakat dengan masyarakat menjadi konflik sosial.

Perpanjanggan kontrak pertambagan raksasa dunia PT. FI ini sedang perdebatang kalangan elitis borjuasi koruptor seakan-akan miliknya pribadi tampa melibatkan atau mempertanyakan pemilik kekayaan alam. Pemerintah Daerah pun pembiaran baik Propinsi bahkan kabupaten/kota, lebih-lebih DPR sebagai wakil rakyat tunjukan tidak nyata, waktu masa kampanye itu keluarkan kata yang manis. Tetapi mana bukti sebagai anak pewaris atau wakil rakyat, bahkan mereka sendiri jadi perbudak rakyatnya sendiri. Cari hanya keuntungan sesaat karakter pejabat orang Papua.

Dalam pendekatan eksploitasi ekonomik mengarah langsung kepada penindasan politik. PT. Freeport, sebagai korporasi besar internasional, telah menggunakan kekuatannya dengan menguasai militer nasional bahkan internasional untuk mempengaruhi negara agar mendukung praktek eksploitasinya di tanah Papua. Kekuatan bersenjata, dengan terang-terangan digunakan untuk menegakkan hak-hak properti dan kontrak yang tidak adil antara kapitalis dan Petinggi PT.FI. Penindasan juga mengambil bentuk yang lebih luas, menggunakan tangan kedua, melalui tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh masyarakat, para politisi lokal dan nasional, melalui media-media (lokal maupun nasional), melalui para intelektual, untuk membenarkan dan merasionalisasi tatanan sosial dan ekonomi yang sedang berlangsung. Singkatnya, struktur ekonomi yang diciptakan oleh Freeport di tanah Papua telah membentuk suprastruktur politik yang berpihak kepadanya pemilik modal atau pengusaha penguasa bukan mensejatrakan rakyat Papua sebagai pemilik ulayat Tambang raksasa.

Perlawanan PT. Freeport tidak boleh berhenti pada isu ekonomik normatif semata, tetapi harus berlanjut menuju isu-isu politik: hak kemerdekaan dan pengambilalihan pabrik sebagai wujud nyata merebut kembali kekayaan tanah papua ke tangan rakyat pekerja Papua. Gerakan Papua Merdeka juga didorong ke arah perjuangan kelas Ekonomi, mendukung kelas buruh mengambil alih kekuasaan ekonomi dan politik di Papua. Gerakan Papua Merdeka harus hati-hati dengan munculnya jalan semua yang ditawarkan oleh para elit politik borjuasi Idonesia dan America di Papua yang bertujuan ingin menyabotase perjuangan rakyat Papua demi kepentingan kelas mereka. Garis kelas harus ditarik sedini mungkin di dalam gerakan perjuangan rakyat Papua untuk menuntut kemerdekaannya. Rakyat pekerja Papua harus mandiri secara organisasi, politik, dan ideologi.

Garis yang dilakukan kepentingan ekonomi internasional di Papua banyak rakyat papua yang korban begitu saja dari tahun-ketahun tampa proses hukum. Hukum juga tidak pernah memihak kepada orang papua ada hanya pembiaran.

Mari kita satukan solidaritas yang ada bubarkan PT. Freeport dan rakyat Papua ini secara riil dan berkekuatan politik revolusioner – yang secara kontinyu mengekspos kebangkrutan rejim borjuis Indonesia. Peristiwa berdarah di Papua hari ini bisa menjadi momentum untuk membangun ikatan kuat antara rakyat pekerja Papua dan Indonesia untuk bersama-sama melawan rejim borjuis Indonesia.

Vietnam mabes KNPB Pusat

Mecky Yeimo,
Penulis: Aktifis KNPB Sekjend I KNPB Pusat

Rabu, 02 Desember 2015

Ini sikap KNPB, Dari Bumi Amungsa

Massa Aksi AMP Terbaring Saat Militer Indonesia Mengeroyoknya. (Foto/fb)
KNPB_News:_Ini sikap KNPB, dari bumi Amungsa, tempat perampok Freeport beroperasi, saya dan rakyat West Papua mengecam keras tindakan biadab aparat kolonial Indonesia di Jakarta di bawa pimpinan Tito Karnavian, Kapolda Metro Jaya, yang secara brutal telah memukul, menangkap ratusan Mahasiswa Papua dan menembak Mahasiswa Niko Suhun. Kami juga mengecam Tito Karnavian yang merupakan aktor berbagai aksi teror di West Papua yang telah menewaskan banyak aktivis dan rakyat sipil Papua. Kekerasan terhadap gerakan demokratis mahasiswa ini sejalan dengan pernyataan Tito Karnavian bulan Oktober lalu bahwa' "Polisi melanggara HAM itu boleh".

Hari ini, Tito Karnavian dan aparat brengsek di pusat ibukota kolonial Indonesia, membuktikan dan menyatakan kepada seluruh dunia tentang wajah kekerasan penguasa kolonial Indonesia yang sedang diterapkan di West Papua. Kami sudah menduga dari jauh hari bahwa penguasa kolonial mengkondisian opini publik, dengan menjadikan 1 Desember sebagai momok yang berdarah-darah, karena suudah berjalan tindakan penangkapan, penculikan, dan penembakan sebelum tanggal hari ini, 1 Desember 2015. Kasus penculikan di Sentani oleh Kopassus, kasus penodongan di Kota Raja oleh Brimob, hingga penembakan di Mamberamo dan Serui tadi malam adalah real militerisme yang terstruktur.

Publik nasional Indonesia dibodohi dengan pembohongan publik yang dilakukan oleh para jenderal ini, yakni Paulus Waterpau yang membuat pernyataan para pembersih lapangan ibadah di Nabire mengibarkan bendera, lalu hari ini di Jakarta melalui media detik.com bahwa alasan membubaran aksi karena Mahasiswa membawa bendera bintang fajar. Inilah pembohongan yang dilakukan untuk memuluskan kepentingan ketenaran, jabatan, dan uang operasional TNI dan Polri. Inilah budaya para jenderal perusak kemanusiaan dunia yang harus dilawan oleh rakyat tertindas di Indonesia, maupun dunia tanpa batas keyakinan politik masing-masing.

Yang harus dipahami oleh siapapun makluk di dunia ini adalah bahwa kebenaran sejarah tidak dapat dihilangkan dengan bedil senjata. Siapapun dan apapun gerakannya, penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan ekspresi politiknya harus dilindungi oleh negara manapun di dunia ini. Apalagi rakyat West Papua, diatas wilayahnya, yang dimana kolonialisme dan kapitalisme telah meraup kepentingan ekonomi dari sumber daya alam Papua. Bahwa rakyat West Papua hari ini yang kau korbankan tidak berjuang untuk meminta bagi hasil Freeport yang kau ributi hari demi hari dengan kerakusanmu yang menggila. Rakyat West Papua tidak butuh itu. Mereka berdiri di depan gedung-gedung mewah di Jakarta yang kau bangun dengan kekayaannya hari ini untuk tujuan menuntut hak politik yang kau curi 19 hari setelah deklarasi manifesto politik 1 Desember 1961. 

Ingatlah penjajah, hari ini, diatas negeri ini, aktivitas pemerintahan kolonialisme tidak berjalan alias libur bersama untuk memperingati dan menghormati hari dimana 54 tahun lalu kami medeklarasikan diri sebagai sebuah bangsa dan negara. Rakyat West Papua yang kau jajah dengan sesadar-sadarnya telah bersiap untuk menentukan nasib mereka sendiri. Tentu kau tidak akan berhasil menghalangi darah juang segenap rakyat West Papua yang semakin muak dengan tidakanmu. Dengan tidakanmu hari ini kau sendir telah menyatakan kepada dunia bahwa kami bukan bagian dari bangsa Indonesia, tetapi benar bahwa kami bangsa Papua. Itu jugalah yang akan menjadi alasan kenapa kami akan terus memberontak melawanmu hingga titik darah penghabisan.

Kami pasti menang!

dari kami yang kau jajah, di tempat yang kau rampok,
bumi Amungsa, Timika, West Papua


Victor Yeimo
Ketua Umum KNPB







Ko Dengar, "Kawan"


orang-orang yang memaksa kami menjadi bagian dari Indonesia, itu orang-orang yang sebenarnya sedang melawan kebenaran dan membela kejahatan. sekali lagi, kebenaran perjuangan tahu kemana ia akan pergi dan kapan ia akan sampai pada tujuan. yang benar marilah berjalan bersama, dengan tentu menyadari bahwa penderitaan adalah jalan menuju cita-cita pembebasan umat manusia di planet bumi ini. Papua Merdeka akan tetap menjadi giroh perlawanan perjuangan setiap generasi. penjajah sedang menjadi guru yang mengajar setiap anak negeri Papua menjadi pemberontak sejati! salam perlawanan kami dari bumi Amungsa, West Papua!

By Victor Yeimo
Ketua Umun
Komite Nasional Papua Barat (KNPB)
 
Copyright © 2013 -2018 KNPBnews
Design by FBTemplates | BTT